Lingkungan Sosial dan Budaya, dan Aspek-aspeknya Negoisasinya
Aspek Dasar Dari Budaya
Bagi
ahli antropologi dan sosiologi, budaya adalah “cara hidup” yang dibentuk oleh
sekelompok manusia yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Budaya termasuk kesadaran dan ketidaksadaran akan nilai, ide, sikap, dan simbol
yang membentuk perilaku manusia dan diteruskan dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Seperti didefinisikan oleh seorang ahli antropologi organisasi
Geert Hofstede, budaya adalah “tatanan kolektif dari pikiran yang membedakan
anggota tersebut dari satu kategori orang dengan orang lainnya
·
Komunikasi dan Negosiasi
Jika
bahasa dan budaya berubah, ada tantangan tambahan dalam komunikasi. Misalnya,
“ya” dan “tidak” dipergunakan dengan cara yang berbeda antara Negara Jepang dan
Negara barat. Hal ini menyebabkan kebingungan dan kesalahpahaman. Dalam bahasa
inggris jawaban “ya” atau “tidak” atas sebuah pertanyaan didasarkan pada apakah
jawabannya mengiyakan atau menolak. Dalam bahasa Jepang, tidak demikian.
Jawaban “ya” atau “tidak” dapat dipergunakan untuk jawaban yang membenarkan
atau menolak pertanyaan tadi.
·
Perilaku Sosial
Ada
sejumlah perilaku sosial dan sebutan yang mempunyai arti yang berbeda-beda di
dalam budaya lain. Sebagai contoh, orang Amerika umumnya menganggap tidak sopan
jika makanan di atas piring membubung, membuat keributan ketika sedang makan, dan
bersendawa. Namun sejumlah masyarakat Cina merasa bahwa merupakan hal yang
sopan jika mengambil setiap porsi makanan yang dihidangkan dan menunjukkan
kepuasannya dengan bersendawa. Perilaku sosial lainnya, jika tidak diketahui,
akan merugikan bagi pelancong internasional. Sebagai contoh, di Arab Saudi,
merupakan penghinaan jika menanyakan kepada pemilik rumah tentang kesehatan
suami/istri.
·
Sosialisasi Antar-Budaya
Memahami
suatu budaya berarti memahami kebiasaan, tindakan, dan alasan-alasan di balik
perilaku-perilaku yang ada. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, bak mandi dan
toilet mungkin berada dalam ruang yang sama. Orang Amerika mengasumsikan bahwa
ini adalah norma yang berlaku di dunia. Namun, dalam beberapa budaya seperti
Jepang, menganggap itu tidak higienis. Bahkan budaya lain menganggap duduk di
atas toilet duduk itu tidak higienis. Di banyak budaya, penggunaan tisu toilet
bukanlah norma mereka.
Pendekatan Analisis Faktor-faktor Budaya.
Budaya
adalah “tatanan kolektif dari pikiran yang membedakan anggota tersebut dari
satu kategori orang dengan orang lainnya.” (Geert, 1988: 5). Budaya memainkan
peran dalam kehidupan dalam konteks institusi sosial, termasuk keluarga,
pendidikan, agama, pemerintahan, dan institusi bisnis. Budaya juga termasuk
kesadaran dan ketidaksadaran akan nilai, ide, sikap, dan simbol yang membentuk
perilaku manusia dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Dalam arti ini, budaya tidak mengacu pada penyelesaian yang hanya berlaku
sekali untuk masalah-masalah unik, atau moda dan gaya yang berganti-ganti.
Menurut
Keegan (2009: 68), alasan mengapa faktor-faktor budaya merupakan tantangan bagi
pemasar global adalah karena faktor-faktor budaya itu tidak mudah terlihat.
Budaya merupakan tingkah laku yang dipelajari, yang diturunkan dari satu
generasi ke generasi berikutnya, sulit bagi seseorang dari luar kalangan yang
tidak berpengalaman atau tidak terlatih untuk memahaminya. Menjadi seorang
manajer global berarti bagaimana menyingkirkan asumsi-asumsi budaya. Kesalahan
dalam melakukan hal itu akan menghambat pemahaman yang akurat tentang makna dan
arti dari pernyataan dan perilaku para rekan bisnis dari latar belakang budaya
yang berbeda-beda.
NEGOISASI
Kata negosiasi
berasal dari bahasa Inggris. Artinya, “bernegosiasi” dan “bernegosiasi” berarti
mendiskusikan, bernegosiasi, atau bernegosiasi. Istilah
negosiasi juga memiliki makna turunan lain, “negosiasi.” Ini berarti bisa
menggambarkan kegiatan mendiskusikan atau menegosiasikan sesuatu dengan pihak
lain untuk mencapai kesepakatan.
Produk Industri
Adalah sebuah produk yang dibeli oleh produsen atau
perusahaan, yang nantinya akan dijual kembali atau digunakan sebagai bahan baku
untuk proses produksi sehingga menghasilkan barang lain. Jadi intinya
barang/produk industri digunakan untuk proses produksi, diantaranya yaitu:
·
Materials and parts
“bahan baku dan suku cadang”
·
Capital items “barang
modal”
·
Supplies and services
“perlengkapan dan layanan bisnis”
(Produk Konsumen)
Produk Konsumen adalah produk barang atau jasa yang
konsumennya adalah konsumen rumah tangga sebagai pemakai akhir di mana produk
dari produsen yang terjual dan dibeli konsumen akan dipakai dan dikonsumsi
sendiri dan bukan untuk dijual kembali.
Pada umumnya produk konsumen dibedakan menjadi empat jenis,
yaitu:
1. Convenience Products (Produk Sehari-hari)
Merupakan produk yang sering dibeli atau produk yang
memiliki frekuensi pembelian yang sering dan relative memiliki harga yang
murah. Produk ini pun dibutuhkan dalam waktu yang cepat, selain itu untuk
memperolehnya konsumen hanya memerlukan usaha yang sedikit atau minimum dalam
pembandingan dan pembeliannya (mudah diperoleh).
Barang convenience dibagi menjadi beberapa jenis, yakni :
a. Barang Bahan Pokok / staples goods
Adalah barang yang sering dibeli rutin tanpa banyak
pertimbangan yang umumnya merupakan barang kebutuhan sehari-hari seperti
peralatan mandi, obat, bahan makanan, dan lain sebagainya.
b. Barang Dorongan Hati Sesaat / Impulse Goods
Adalah barang-barang yang dibeli tanpa adanya perencanaan
dan pertimbangan yang matang seperti makanan ringan di rak antrian kasir.
c. Barang Darurat dan Mendesak / Emergency Goods
Adalah barang yang dibeli ketika masa-masa kritis atau
darurat seperti jasa tambal ban, ambulan, mobil derek, pemadam kebakaran, dll.
2. Shopping products (Barang Toko)
Merupakan produk yang dimana konsumen membutuhkan waktu
untuk memperolehnya dan sedikit loyalitas terhadap merek yang akan dipilihnya.
Selain itu produk ini pun membutuhkan suatu proses pembandingan dalam proses
pemilihan dan pembeliannya oleh konsumen. Pembandingan ini dilakukan konsumen
diantara produk-produk alternative lainnya yang tersedia di pasar.
Jenis barang ini dibagi menjadi dua macam, yaitu :
a. Homogenous Shooping Goods
adalah barang yang pada dasarnya sama namun harga tiap toko
beda sehingga konsumen mencari harga termurah. Contoh : Mobil, motor, televisi,
kaset tape, dsb.
b. Heterogenous Shopping Goods
adalah barang yang dianggap berbeda dan ingin melihat mutu
dan kecocokan barang terlebih dahulu di mana ciri dan keunikan lebih
berpengaruh dibandingkan dengan harga. Contohnya seperti perabot rumah tangga,
parts komputer, jasa hotel, dan lain-lain.
3. Specialty products (Barang Khusus)
Merupakan produk yang membuat konsumen harus lebih dulu
mencari informasi mengenai suatu produk tertentu, serta untuk memperolehnya
konsumen harus memiliki loyalitas merek terhadap produk tersebut. Selain itu
produk-produk ini pun memiliki karakteristik dan identifikasi merek yang unik
serta memiliki tingkat kepentingan bagi konsumen sehingga konsumen bersedia
melakukan usaha yang lebih atau khusus untuk memperolehnya.
Contohnya adalah jam rolex, pakaian rancangan orang
terkenal, merek serta jenis mobil tertentu, peralatan fotografi yang mahal dan
produk lainnya.
4. Unsought products (Barang yang Tidak Dicari)
Merupakan produk yang tidak diketahui oleh konsumen
sehingga produk ini tidak memperoleh perhatian yang khusus dari konsumen.
Meskipun suatu saat konsumen mengetahui keberadaan produk ini, konsumen akan
tetap tidak memiliki pemikiran untuk membeli dan menggunakan produk tersebut
sampai tingkat kebutuhan konsumen muncul. Oleh karena itu maka produk ini
membutuhkan proses pemasaran yang terus menerus serta penjualan secara
langsung.
Contohnya adalah asuransi jiwa, ensiklopedia, dan produk
lain
http://mycindyjuliyani.blogspot.com/2018/11/lingkungan-sosial-budaya-dan-aspek.html
https://mansarglobal.wordpress.com/2020/05/20/pendekatan-analitis-faktor-faktor-budaya/
https://pakdosen.co.id/pengertian-negosiasi/
https://pakdosen.co.id/produk-adalah/
https://wulanpurwanti31.blogspot.com/2015/03/pengertian-produk-konsumen.html
Komentar
Posting Komentar